09.36

Memelihara Keseimbangan Hukum Alam

Bagi setiap lingkungan tertentu,alam telah menentukan sebuah jumlah yang sesuai.Jika suatu spesies hewan melebihi jumlah tertentu,populasi itu akan selalu mulai berkurang.Semua makhluk hidup mempertahankan jumlah yang cukup untuk kelangsungan hidup dalam lingkungan tersebut.


Fenomena ini juga ditemukan dalam gen.Menurut sebagian ilmuwan,gen-gen tertentu bersifat egois,hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri,yang bagi sebuah gen adalah kelangsungan hidup dan perkembangbiakan.Sementara gen-gen yang lain bersifat altrius,selalu membawa sel menuju pengorbanan diri dan kematian.Apakah yang menyebabkan apa yang tampak seperti pertentangan antara kelangsungan hidup dan kematian?Sekali lagi ini adalah prinsip pengekangan diri.Jika gen terus berkembangbiak dan tidak pernah mati,ini akan berakibat pada pembengkakan jumlah yang membawa malapetaka.Makhluk hidup harus makan untuk dapat bertahan hidup,tetapi jika jumlah mereka terlalu banyak,tidak akan ada cukup makanan.Juga tidak akan ada tempat yang cukup untuk menampung mereka semua.Oleh karenanya gen kita diprogram untuk mempertahankan keseimbangan yang cukup,dan kematian adalah suatu bagian yang penting dalam proses ini.Karena makhluk hidup pasti mati,kita membutuhkan baik gen-gen egois amaupun altruis.Ini adalah mekanisme yang mempertahankan keseimbangan bagi seluruh planet.


Sebaliknya,dengan melihat tingkah laku manusia,kita tahu bahwa kita kehilangan kemampuan pengekangan diri itu selama sejarah perkembangan menuju era modern.Kita telah menguras persediaan minyak dan gas hingga titik penghabisan,menggunduli hutan tanpa menghormati ekosistemnya,dan menyebarkan bahan-bahan kimia pertanian beracun untuk mendapatkan panen yang bahkan lebih banyak.Perbuatan-perbuatan seperti itu,yang hanya dapat dideskripsikan sebagai keangkuhan manusia,semakin lama menjadi semakin mencolok.Kita memang memerlukan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan,tetapi jika tidak berhati-hati hal ini dapat berujung pada kesombongan.Ketika bahaya itu mulai mengangkat kepala,kami menyarankan agar kita mengingat-ingat sisi altruistik dari susunan genetik dan melaksanakan pengekangan diri,yang adalah sebuah sikap sesuai dengan hukum alam.Sungguh penting untuk menahan diri untuk tidak melanggar hukum alam dengan menghancurkan lingkungan alam atau dengan mengubah bentuk makhluk hidup,bahkan jika teknologi telah memungkinkan hal ini.


Setelah bertelur,suatu jenis rayap tertentu yang memiliki warna pelindung terus terbang disekeliling tempat itu hingga akhirnya sang rayap kehabisan tenaga dan mati.Bagi kita,hal ini tampak seperti bunuh diri,tetapi dengan melakukan hal ini rayap itu mencegah predatornya untuk mendapatkan kesempatan mempelajari bagaimana caranya mengenali rayap-rayap lain yang memiliki spesies yang sama.Sebuah jenis rayap lain yang beracun berdiam diri tak bergerak setelah bertelur,dan menjadikan dirinya sasaran empuk bagi para predator.Diyakini bahwa dengan melakukan hal ini,mereka mengajarkan kepada para predator bahwa mereka tidak enak dan dengan cara ini pula mereka melindungi anak-anak mereka.Walaupun rayap-rayap dewasa ini dapat hidup lebih lama jika mereka mau,mereka mengorbankan hidup mereka demi masa depan spesies mereka.Mereka tidak pernah mempertimbangkan alternatif lain.


Kita manusia dapat belajar begitu banyak dari kepatuhan pada hukum alam ini.Jika tidak melakukannya,kita akan membahayakan masa depan umat manusia,karena kita tidak akan pernah dapat melampaui hukum-hukum alam,betapa kerasnya kita mencoba.Pengekangan diri yang sesungguhnya dilahirkan dari adanya pengetahuan mengenai keberadaan sesuatu kekuatan Allah yang Maha Agung,dan kesadaran ini akan membantu kita tumbuh dengan hebat sebagai manusia.


Ada banyak hal yang masih tidak kita pahami mengenai hidup.Cita-cita kami adalah terus menjelajah inti dari kehidupan tidak hanya dari sudut pandang ilmiah,tetapi juga dari perspektif spiritual keagamaan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.